Baiq Nuril, perekam percakapan ‘tidak senonoh’ kepala sekolah dinyatakan bersalah


Baiq Nuril Maknun seorang mantan pegawai honorer SMAN 7 Mataram yang berusia 36 tahun terjerat kasus ITE atas sangkaan “mendistribusikan atau mentransmisikan konten kesusilaan” yang tertera dalam pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ibu Nuril terancam kembali masuk penjara karena kasasi yang diajukan oleh penuntut umum atas putusan bebas Ibu Nuril dikabulkan Mahkamah Agung (MA).

Putusan kasasi MA nomor 574K/PID.SUS/2018, tanggal 26 September 2018 menyatakan, mengabulkan permohonan kasasi dari Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Mataram dan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Mataram sebelumnya yang memvonis bebas Nuril. Dalam putusan kasasi tersebut, Nuril dinyatakan telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana ITE dan terancam pidana penjara enam bulan kurungan serta denda Rp 500 juta. Namun apabila pidana denda tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan.

Seperti dilansir dari BBC, kasus Nuril ini bermula pada tahun 2017 dengan kepala sekolah tempat Ibu Nuril bekerja di Mataram berinisial M yang menelpon dan kemudian menceritakan pengalaman hubungan seksualnya dengan perempuan lain.

Nuril kemudian merekam pembicaraannya untuk membuktikan dirinya tak memiliki hubungan dengan M.

“Misalnya dia cerita 20 menit, yang urusan kerjaan itu paling hanya 5 menit (sisanya pelecehan seksual secara verbal)” kata Nuril seperti dikutip Tirto.

Seorang rekan Nuril, yang kemudian menyebarkan rekaman itu ke Dinas Pendidikan Kota Mataram dan pihak-pihak lain. Tetapi sang kepala sekolah yang saat ini telah dpindahkan justru melaporkan ke polisi atas pelanggaran pasal 27 ayat 1 UU ITE.

“Jadi Nuril hanya merekam sebagai cara dia membela diri ketika dia (M) mau berlaku tidak senonoh lagi,”kata pengacara Nuril, Joko Jumadi.

“Rekaman itu kemudian diberikan ke Imam Mudawin untuk dilaporkan ke Dispora Mataram. Eh ternyata oleh Imam diberikan ke beberapa pihak. Jadi Nuril hanya memberikan handphone-nya. Sedangkan yang memindahkan ke laptop adalah Imam,” tambahnya.

Seorang peneliti dari The Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Maidina Rahmawati, menyatakan khawatir putusan hakim MA akan menjadi preseden buruk bagi korban pelecehan dan kekerasan seksual.

“Karena korban pelecehan dan kekerasan seksual bakal sulit memperoleh keadilan dan rentan dikriminalisasi. Nanti kalau korban perkosaan menaruh bukti di handphone gimana?” ujar Maidina Rahmawati kepada BBC News Indonesia, Senin (12/11).

Maidini mengatakan konteks “mendistribusikan konten kesusilaan” dianggap melanggar jika secara sengaja disebarkan ke muka umum atau khalayak ramai.

Ia mengatakan yang dilakukan Baiq Nuril adalah murni untuk kepentingan pribadi dan untuk melindungi dirinya dari tindakan pelecehan seksual.

“Jadi filosofi pasal 27 ayat 1 itu sama seperti di KUHP, bahwa terjadi pelanggaran bagi siapa yang melakukan perbuatan asusila dan disebarkan ke muka umum akan dipidana. Nah pasal itu diadopsi di UU ITE,” jelas Maidina.

“Harusnya hakim dalam memutuskan pasal itu, melihat konteks ‘menyebarkan ke muka umum’,” sambungnya.

Semenjak kasus ini, Ibu Nuril Gegara berhenti dari pekerjannya dan kini jualan kue untuk menyambung hidup dan mengajar ngaji. Nuril juga ikut dipercaya sebagai panitia saat pemilihan kepala daerah dan desa. Sedangkan pekerjan suaminya Isnaini yang berumur 40 bekerja serabutan sejak berhenti jadi pramuniaga di Gili Trawangan. Kini Isnaini terdaftar jadi tukang ojek online.

Ibu Nuril mengharapkan keadilan dari Presiden Jokowi, “Saya minta keadilan, seandainya putusan MA itu pun yang paling tinggi, apa tidak bisa dibatalkan oleh yang paling tinggi seperti presiden. Saya cuma minta keadilan, itu saja,” ungkap Baiq Nuril.

Tagar #SaveIbuNuril sempat menjadi trending di twitter, kritikan maupun ajakan untuk mendukung keadilan bagi Ibu Nuril mengalir dari netizen,

Tirto.id bahkan menyajikan artikel dengan judul “Sudah dilecehkan secara seksual, dikriminalisasi pula. Bravo, Indonesia!”

Pelaku pelecehan justru dipromosikan menjadi Kepala Bidang di jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mataram, bahkan tak mendapatkan sanksi apapun.

Previous Sebuah Rumor Menyebabkan Dua Pria Dibakar Hidup-hidup di Mexico
Next Rumah Sakit Gajah Dibuka di India

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *