Sebuah Rumor Menyebabkan Dua Pria Dibakar Hidup-hidup di Mexico


Pada tanggal 29 Agustus, tidak lama setelah tengah hari, Maura Cordero, pemilik sebuah toko seni dan pekerjaan tangan di sebuah kota kecil Acatlán, negara bagian Puebla, Meksiko tengah, melihat sekumpulan orang berkumpul di luar kantor polisi di sebelah tokonya.

Cordero, 75 tahun, mendekati pintu dan melihat ke luar. Puluhan orang berada di luar pos polisi di Reforma Street, di pusat kota dan kerumunan orang terus bertambah. Tidak lama kemudian jumlahnya menjadi lebih dari seratus orang.

Mereka adalah warga desa San Vicente Boqueron yang mendengar kabar polisi telah menangkap dua pria yang mencoba menculik anak-anak. Warga yang marah mendatangi kantor polisi di kota Acatlan de Osorio dan memaksa polisi melepaskan kedua pria yang diyakini adalah ayah dan putra itu.

Banyaknya warga yang datang membuat polisi tak kuasa menahan mereka. Akhirnya warga yang mengamuk itu berhasil menerobos kantor polisi. Mereka kemudian membuka sel tahanan dan menyeret kedua pria itu ke jalanan. Di luar kantor polisi massa mengeroyok kedua pria tersebut hingga babak belur. Tak cukup dengan menghajar, beberapa orang kemudian menyiram tubuh kedua pria itu dengan menggunakan bensin dan kemudian membakar mereka hidup-hidup. Saat api berkobar melalap kedua pria itu, warga bersorak sorai, bertepuk tangan, dan beberapa dari mereka bahkan merekam kejadian itu dengan telepon genggam mereka. Massa yang mengamuk tak berhenti sampai di sana. Mobil milik kedua pria itu juga dihancurkan lalu dibakar.

Petra Elia Garcia, nenek Ricardo dipanggil ke tempat kejadian untuk mengidentifikasi dan dia mengatakan air mata masih terlihat di pipi Alberto saat dia tiba. “Lihat apa yang Anda lakukan kepada mereka!” teriaknya kepada sisa kerumunan orang yang sudah mulai membubarkan diri.

Menurut pemerintah, lima orang itu sekarang didakwa memicu terjadinya kejahatan dan empat orang lain didakwa melakukan pembunuhan.

Martinez, yang menyiarkan secara langsung adegan kekerasan tersebut, Castelan, yang meminta minyak tanah dan seorang pria yang disebut sebagai Manuel yang membunyikan lonceng. Mereka adalah tiga dari lima orang itu.

Dua orang yang diduga penghasut dan empat terduga pembunuh masih buron, kata polisi.

Penghakiman massa bermula dari sebuah pesan melalui aplikasi whatsapp:

“Semua orang harap waspada karena adanya wabah penculikan anak di negara ini,” tulis pesan yang berpindah dari satu telepon selular ke telepon selular lainnya.

“Seperti para penjahat ini yang terlibat dalam perdagangan organ tubuh… Dalam beberapa hari terakhir, anak berumur empat, delapan dan 14 tahun menghilang dan sebagian anak ini ditemukan meninggal dengan organ tubuh yang dicabut. Perut mereka dibuka dan dikosongkan.”

Karena terlihat di dekat sekolah dasar bernama San Vicente Boqueron, Ricardo Flores, 21 tahun, yang pindah ke Xalapa untuk mempelajari ilmu Hukum dan Alberto Flores, seorang petani yang berumur 43 tahun, mereka berdua kemudian dianggap sebagai penculik anak.

Polisi mengatakan tidak terdapat bukti kedua pria itu melakukan kejahatan. Adapun mereka dibawa ke pos karena “mengganggu ketertiban” setelah didatangi penduduk setempat.

Gubernur Puebla Martha Erika Alonso mengecam aksi main hakim sendiri itu dan menegaskan hal tersebut tak boleh terjadi lagi.

Kematian Ricardo dan Alberto Flores di kota kecil Meksiko bukanlah peristiwa sejenis satu-satunya. Rumor dan berita palsu di Facebook dan WhatsApp juga menyebabkan kekerasan mematikan di India, Myanmar dan Sri Lanka, selain negara-negara lain.

Di India, sama seperti Meksiko, teknologi membesarkan desas-desus tentang penculik anak di abad ke-21, membuat informasi lebih cepat dan lebih jauh penyebarannya dengan tingkat ketepatan yang lebih rendah.

WhatsApp yang dibeli Facebook senilai US$19 miliar atau Rp281 triliun pada tahun 2014, dikaitkan dengan serangkaian pembunuhan oleh kerumunan orang di India, yang sering kali dipicu berita palsu penculik anak.

Di negara bagian Assam pada bulan Juni, terjadi kejadian yang mirip dengan di Acatln, dimana Abhijit Nath dan Nilotpal Das mati dipukuli 200 orang.

Baik WhatsApp maupun Facebook banyak digunakan untuk pemberitaan di Meksiko, menurut laporan Reuters Institute for the Study of Journalism tahun 2018.

Menurut laporan yang sama, 63% pengguna internet di Meksiko mengatakan mereka sangat khawatir atau benar-benar sangat khawatir terkait dengan penyebaran berita palsu.

Previous Marvel berduka, Stan Lee Meninggal Dunia
Next Baiq Nuril, perekam percakapan 'tidak senonoh' kepala sekolah dinyatakan bersalah

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *