Mengenal Bintang Michelin


Clermont – Ferrand, sebuah kota industri di Perancis yang berlatar pedesaan. Memiliki 80 bukit dan gunung kerucut peninggalan gunung berapi yang tak lagi aktif sejak tujuh ribu tahun lalu. Tahun 2018, pegunungan ini, Chaîne des Puys, dilabeli warisan dunia oleh UNESCO. Katedral Notre-Dame merupakan ikon kota ini.

Di kota dengan arsitektur istimewa dan perkampungan mengagumkan secara geografis inilah, dua bersaudara Andre dan Edouard Michelin mendirikan perusahaan ban pada tahun 1889. Kedua Michelin bersaudara membuat transportasi menjadi lebih efektif serta efisien, dan tentu saja memberikan sumbangsih mentereng dalam dunia kuliner: bintang Michelin untuk restoran terbaik.

Terobosan pertama Michelin bersaudara adalah paten temuan ban angin yang diujicoba dalam perlombaan sepeda Paris-Brest-Paris tahun 1891. Kemudian mereka juga menemukan ban mobil—ban pertama yang bisa bertahan dalam kecepatan di atas 100 kilometer per jam—dan ban dengan pelek yang dapat dicopot.

Pada 1929 mereka menciptakan ban karet untuk kereta api, yakni Micheline, yang pertama kali digunakan di rel tahun 1931. Kala itu terdapat setidaknya tiga ribu mobil saat Michelin bersaudara membuka toko. Kini ada lebih dari 32 juta mobil di negara itu.

Michelin mulai membuat panduan wisata tahun 1900, berawal dari buku petunjuk menjelajahi Paris, yang dibagikan gratis pada para pengendara mobil. Panduan Michelin dan peta dunia di awal abad ke-20 ini membuat Michelin tak hanya merepresentasikan onderdil transportasi, namun juga menjadi bagian dari pariwisata dan dunia makanan. Michelin bersaudara menyusun daftar restoran yang menyajikan makanan lokal terbaik serta memiliki ruang penyimpanan anggur di bawah tanah; yang bisa menjadi salah satu alasan melancong.

Buku dan peta itu mendorong pengendara mobil untuk mengitari negara mereka, membuat jalan putar sehingga dapat melalui restoran-restoran yang memikat dan akhirnya membuat pelancong bermalam di suatu tempat.

Penerbitan itu adalah siasat jitu untuk mendorong perjalanan yang lebih panjang dengan mobil, yang di sisi lain menguntungkan penjualan ban-ban Michelin bersaudara.

Tahun 1926, Michelin mengeluarkan panduan wisata yang lebih komprehensif, berfokus pada fine dining. Panduan itu semakin banyak digunakan, terutama karena ulasan yang dianggap andal, yang dikerjakan oleh penyantap hidangan anonim—ciri yang terus dipertahankan hingga saat ini.

Panduan itu pun terus diberitakan media massa sehingga Michelin tetap memelihara reputasi mereka sebagai pencicip makanan kenamaan. Anugerah bintang pun diberikan kepada restoran-restoran yang memiliki reputasi baik. Ini merupakan awal permulaan hubungan antara ban mobil yang tahan lama dan hasrat mencari boeuf bourguignon atau semur daging sapi terlezat.

Patrick Young, profesor sejarah Perancis periode abad ke-19 dan ke-20 di Universitas Massachusetts-Lowell, Amerika Serikat, mengatakan,

“Hal inovatif dalam Panduan Michelin adalah penggabungan hal-hal yang berkaitan dengan moda angkut darat, informasi rute yang rinci, dan sistem pemeringkat untuk hotel dan restoran.”

Kini Michelin mencakup 34 destinasi di Eropa, Asia, dan Amerika, dengan sistem penilaian bintang yang menrangsang teror dan keberhasilan di kalangan pengelola restoran di seluruh dunia.

Meraih sebuah bintang Michelin adalah harapan hampir setiap koki yang bercita-cita tinggi.

Koki asal Inggris, Andrew Wong, membandingkan anugerah bintang Michelin dengan pernikahan. Koki terkenal yang keras kepala, Gordon Ramsey, mengaku meratapi kenyataan restorannya kehilangan satu dari dua bintang Michelin.

Bahkan perbukitan berzamrud di kawasan Clermont-Ferrand punya peran dalam sejarah Michelin.

Bintang Michelin dapat mengangkat dan menghancurkan karier kuliner. Maskot mereka yang terlihat seperti marshmallow terlihat di seluruh penjuru dunia dan lebih dari 187 juta ban mereka diproduksi setiap tahun.

Semua aktivitas itu berasal dari sana, di jantung Auvergne di Perancis.

“Michelin ada di mana-mana,” kata Ghislaine Borie, blogger yang menetap di Clermont-Ferrand dan bekerja untuk Departemen Pariwisata Auvergne-Rhone-Alpes.

Andre dan Edouard Michelin adalah bagian dari gelombang orang-orang visioner Perancis, termasuk pakar teknik Gustave Eiffel, perancang busana Coco Chanel, dan pionir dunia aviasi yang bertanggung jawab pada penerbangan pertama dari London ke kawasan Eropa, Louis Bleriot.

Lahir tahun 1898, perusahaan Michelin kini mencapai usia 120 tahun. Pameran di L’Aventure Michelin yang berlangsung hingga akhir 2018 memperlihatkan sisi terbaik salah satu maskot perusahaan tertua di dunia.

Pameran itu menampilkan evolusi Bibendum, dari penampilannya sebagai orang baik-baik yang menghisap rokok hingga sosoknya yang lebih ceking, meski tetap dilengkapi siluet dirinya yang gemuk.

Namanya, Bibendum, berasal dari terminologi Latin, yakni nunc est bibendum yang artinya ‘saatnya minum-minum’. Nama itu bermaksud membangkitkan citra ban Michelin yang kuat dan tahan lama.

Warisan Michelin berlanjut pada rasa bangga berlebihan Clermontois alias orang-orang yang tinggal di Clermont-Ferrand.

Hingga saat ini, sekitar 600 ribu orang telah mengunjungi kuil milik Michelin yang dibuka tahun 2009 itu. Museum ini didirikan dengan tujuan membagi sejarah Michelin, tradisi, dan nilai-nilai perusahaan pada sebanyak mungkin orang.

Menariknya, di Indonesia maupun Asia, bintang Michelin dinilai tidak relevan. Seperti yang dikatakan Edwin Lau, juri MasterChef dan juga Selebrity Chef kepada Dieqy Hasbi Widhana, tirto.id, mengenai kuliner Indonesia:

“Untuk masakan Indonesia, penilaian Michelin Star tidak relevan. Alasannya adalah masakan Indonesia belum terstandar dengan baik dan mayoritas masakan Indonesia lahirnya dari jalanan dan dijualnya juga di jalanan (Street Food). Michelin Guide menilai semuanya di dalam suatu restoran. Tidak hanya kelezatan/kreativitas masakannya, namun juga dari kualitas perlayanan, interior, wine/sake, dan bahkan performa unik atau teatrikal dari sebuah restoran.”

“Semua hal ini tidak relevan dengan kebanyakan Asian food, terutama di Asia Tenggara karena mayoritas restoran disini adalah restoran yang “rumahan”, tidak menjual wine atau sake berkualitas tinggi, tidak memiliki rotasi menu yang rutin, serta memakai bahan apa adanya untuk menghasilkan masakan selezat mungkin tanpa memikirkan hal mendasar seperti sanitasi, standarisasi, dan elemen “Show” dalam penyajian suatu masakan.”

“Jadi bagi saya, di Asia (kecuali Singapura, Jepang dan HK), para tamu lah hakimnya. Jika laku keras (sekalipun masakannya dan pelayanannya buruk), restoran atau warung itulah “Bintangnya”.”

Di Indonesia, tidak ada restoran berpredikat Michelin star. Mengapa?

“Alasannya karena tidak diperlukan. Di Indonesia, yang penting enak. Mau itu disajikan sejorok mungkin, pasti tetap laku keras, bahkan sampai regenerasi turun temurun. Masyarakat kita belum semodern itu. Bisa dibilang jika mengenai kuliner, negara kita masih tinggal di suatu era kuliner yang berhenti waktunya, alias jalan di tempat. Ini bukan berarti tidak ada perkembangan variasi kuliner. Namun lebih kepada masyarakat kita sudah keburu bangga dengan “Apa Adanya” masakan Indonesia yang tradisional dan membumi.”

“Inilah yang menyebabkan adanya kesenjangan sosial di dunia kuliner. Para eksekutif muda yang berduit dan modern melekat pada pengaruh kuliner asing yang masuk ke Indonesia, dan ada lagi golongan masyarakat lainnya yang fanatik dengan modul kuliner tradisional nusantara. Apabila dilebur, pasti ada saja yang terkesan “aneh”. Misalnya masakan Indonesia yang di-molecular-kan sekalipun keren terlihat, namun cita rasanya tidak akan pernah selezat masakan nusantara yang klasik. Mereka hanyalah “Come dan Go” di Indonesia. Inilah yang menjadi dasar dari kuliner kita akhirnya sangat ter-segmented sesuai region masing-masing,” jelas Lau.

Harapan Lau, pemerintah juga bisa memperhatikan para praktisi kuliner agar budaya Indonesia yang tertuang melalui selera Nusantara pun semakin berkembang dan dikenal lebih banyak orang.

 

 

Previous Apa Bedanya Telur Warna Putih dan Cokelat? Ini Faktanya!
Next DJI Osmo Pocket, Gimbal Seukuran Tangan

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *